No Allah No Happy
Curhatan sahabat di Tanah Rencong Aceh
Senin 15 Des 2025
by FIM-Ferry Is Mirza
@terasmasjidmajlisdzikirpujaserapondokmutiarasdjo
Ba'da sholat Duhur tadi, sahabat saya dari Gayo, Aceh, mengirim kabar lewat WA. Saat membaca, hati saya trenyuh dan perasaan sangat geram merasakan derita masyarakat Aceh khususnya wilayah Bener Meriah dan Gayo Lues.
"Opung FIM, mohon bantu tulis dan share yang saya ceriterakan. Biar warga NKRI di Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Nusra dan Bali serta Jawa, tahu situasi kondisi warga Aceh alami," ujar sahabat yang saya kenal tahun 2004 saat menginap di Sahid Jaya hotel bersama Mualeem yang kini Gubernur Aceh.
Dituturkan, Bener dan Gayo hari ini sedang berjuang lebih keras dari yang bisa kita bayangkan. Dua wilayah yang terhimpit bencana, sama-sama kehilangan akses, dan sama-sama menunggu uluran tangan yang tak kunjung sampai.
Sudah lebih dari dua pekan warga Bener dan Gayo terisolir.
Lebih dari 130 jembatan putus di Bener Meriah.
Di Gayo Lues, puluhan kampung terputus dari dunia luar—tak ada sinyal, tak ada akses, tak ada kepastian kapan bantuan tiba.
Mereka bertahan di tengah gelap. Sedang di Malaysia ada 500 ton bantuan yang sudah siap dikirim: beras, air, selimut, obat, keperluan bayi, hingga makanan darurat.
Itu bukan sekadar logistik—itu adalah harapannya orang- orang kampung Bener dan Gayo, yang dikumpulkan oleh para perantau asal Aceh dengan air mata dan cinta.
Mereka para perantau tidak menunggu perintah.
Tidak menunggu rapat.
Tidak menunggu status bencana.
Mereka bergerak karena peduli tidak butuh izin.
Tetapi bantuan itu kini masih tertahan, menunggu prosedur yang entah mengapa lebih lambat daripada bencana itu sendiri.
Padahal nyawa tidak bisa menunggu.
Lapar tidak bisa menunggu.
Anak-anak yang menangis kehausan tidak bisa menunggu.
Di Bener Meriah, seorang teman PNS bercerita:
“Hidup 10 hari di sini habis gaji sebulan.”
Itu dia, seorang pegawai negeri.
Bagaimana masyarakat yang hidup dari ladang—ladang yang kini hilang oleh longsor dan banjir ?
Ia juga berkata sesuatu yang membuat dada saya sesak :
“Selama ini saya hanya melihat kelaparan di Gaza melalui berita.
Hari ini, saya melihat kelaparan itu di depan mata saya sendiri…
di Bener Meriah… di Gayo Lues…
di tanah kelahiran sendiri.”
Kenyataan yang menyakitkan adalah ini :
Banyak relawan bahkan tak tahu perbedaan antara Bener Meriah dan Aceh Tengah, atau tidak tahu bahwa Gayo Lues terputus total.
Akibatnya, bantuan salah arah.
Yang terlihat ramai—dapat banyak.
Yang terisolir—tenggelam dalam sunyi.
Karena itu, bantuan apa pun yang sudah ada jangan dipersulit.
Jangan tahan kapal.
Jangan tahan logistik.
Jangan tahan harapan.
Bencana bukan soal status nasional atau lokal—
ini soal manusia.
Soal ibu yang menahan lapar demi menyisakan makanan untuk anaknya.
Soal lansia yang berjalan jauh mencari seteguk air.
Soal bayi yang kulitnya mulai ruam karena tak ada air bersih.
Soal keluarga yang bertahan di rumah yang tinggal separuh.
Hari ini, yang mereka butuhkan hanyalah satu: Negeri ini bergerak lebih cepat dari rasa lapar.
Suarakan Bener Meriah.
Suarakan Gayo Lues.
Buka jalan untuk bantuan.
Jangan biarkan mereka menunggu lebih lama lagi.
Karena di sana—di lereng Gayo, di lembah-lembah yang basah oleh hujan dan air mata—
ada kehidupan yang sedang bertahan sekuat tenaga.
Dan mereka tidak boleh dibiarkan sendirian.
Tolong dishare agar sampai ke Istana Negara, ke kediaman Kertanegara. fimdalimunthe55@gmail.com
