Foto Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) kabupaten Jember, Isnaini Dwi Susanti. (Dok-istimewa).
Jember, Radarargopuro.com - Tahun 2025 kabupaten Jember merealisasi nilai investasi mencapai Rp 2,57 triliun, mengalami kenaikan 70,2 persen.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) kabupaten Jember, Isnaini Dwi Susanti menyampaikan bahwa kenaikan realisasi nilai investasi 2025 terdorong oleh akselerasi program rumpun investasi yang terinisiasi Gus Bupati Fawait bersama OPD yang membidangi penanaman modal dan peningkatan desiminasi informasi LKPM-publikasi penanaman modal, dan kegiatan teknis kolaboratif dari rencana aksi rumpun investasi 2025.
"PMDN 410 pelaku usaha, PMA 47 pelaku usaha, sektor yang mendominasi berdasarkan nilai investasi 2025 adalah pertama, sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran (real estate), kedua sektor industri makanan (makanan, minuman, dan pengolahan tembakau) dan ketiga sektor industri kimia dan farmasi (industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, dan industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional)," ungkap perempuan yang kerap dengan sapaan Santi, Senin (06/04/2026).
Lanjut Santi, 457 jumlah pelaku usaha baik PMA dan PMDN kualitas investasi terhadap sisi ketenagakerjaan belum bisa terukur secara langsung oleh Dinas PMPTSP Jember (dikarenakan dampak secara langsung dapat disampaikan oleh Dinas Tenaga Kerja), namun Dinas PMPTSP Jember melalui berbagai kegiatan rutin tupoksinya terus mengingatkan kepada pelaku usaha baik PMA/PMDN bahwa Bupati Jember telah mengeluarkan Kebijakan terkait UHC, maka pelaku usaha telah diminta untuk memfasilitasi para pekerjanya dengan memberikan layanan kesehatan dan layanan kesehatan tenaga kerja.
"Saat ini, investasi di kabupaten Jember belum merata dan masih terpusat pada real estate. Berdasarkan data investasi 2025, PMDN baik UMK maupun Non-UMK masih mendominasi Provinsi Jatim termasuk Kabupaten Jember," tuturnya.
Santi juga memaparkan bahwa agar strategi investasi berdampak langsung ke masyarakat, terutama di tengah inflasi yang masih tinggi ia menjabarkan beberapa langkah, yakni penguatan kolaborasi pelaku usaha skala Non-UMK dengan skala UMKM perlu ditingkatkan agar pelaku UMKM dapat tetap eksis ditingkat lokal maupun nasional, akselerasi program MBG dengan melibatkan pelaku usaha lokal dalam memenuhi bahan baku baik beras, telur, ayam, sayur dll yang difasilitasi oleh OPD teknis (perdagangan, koperasi), jelasnya.
"Selanjutnya program pengembangan Agrowisata Edukasi seperti Puncak Rembangan, Puslit Kopi, Wisata Pantai Integrasi Watuulo-Papuma dengan memberdayakan masyarakat setempat sebagai pusat ekonomi lokal baru serta pelaksanaan even nasional - internasional yang mendorong pertumbuhan ekonomi bagi UMKM dan masyarakat," ucapnya.
Santi juga menambahkan, sini kemudahan perizinan berusaha di kabupaten Jember terus berkontribusi pada peningkatan investasi daerah untuk meningkatkan kepercayaan pelaku usaha untuk menanamkan modal di kabupaten Jember melalui berbagai program kolaboratif rumpun investasi seperti layanan pendampingan langsung kolaboratif lintas OPD kepada pelaku usaha, penguatan tranformasi Jember layanan digital perizinan terpadu (JELITA), dan inovasi layanan terpadu masyarakat (dukcapil, sosial, PTSP) di tiga lokasi.
"Target investasi 2026, tidak hanya ditujukan pada kuantitas nilai investasi tapi juga jumlah pelaku usaha yang aktif, selain itu perlu ditopang dengan meningkatkan kemitraan strategis antara pemerintah daerah dan pelaku usaha, mendorong kualitas penyampaian data LKPM pelaku usaha sebagai cermin kepatuhan pelaku usaha terhadap aturan yang berlaku, akselerasi pemenuhan regulasi dasar investasi/instrumen utama penanaman modal daerah (RTRW-RDTR, Lingkungan Hidup, Pariwisata, Kawasan Industri, Kawasan Ekonomi Khusus, Kebencanaan) dan penyediaan data potensi kabupaten Jember yang terukur-tervalidasi," ungkapnya.
Santi juga mengatakan ada beberapa sektor prioritas baru kedepan, yakni pengembangan sektor pariwisata aset daerah seperti puncak Rembangan, wisata pantai integrasi Watuulo - Papuma, dan lainnya, untuk mengoptimalkan pengelolaan aset daerah sebagai PAD sekaligus mengarah pada potensi investasi/peluang investasi/IPRO.
"Kedua penguatan Program MBG melalui Kemitraan strategis dengan pemberdayaan pelaku usaha lokal yang dibina langsung oleh OPD teknis (Perdagangan, Koperasi, Peternakan, dan Pertanian) sebagai ekosistem perekonomian lokal baru. Ketiga hilirisasi kopi dan tembakau Jember dengan penyediaan data terpadu-tervalidasi, penyiapan tenaga kerja lokal, pelaksanaan kemitraan satu pintu antara BUMD-Puslit Kopi Kakao-Perhutanan Sosial untuk menekan harga dan mengelola distribusi penjualan kopi maupun tembakau sehingga dapat menghadirkan potensi investasi/peluang investasi baru di Jember," pungkasnya.(Red).
